Renungan Parenting: Ayah, Ajaklah Anak Bermain untuk Membentuk Anak Sholeh

posted in: Artikel | 0

Sungguh menarik tulisan Khalid Asy-syantut dalam bukunya yang berjudul “Rumah, Pilar Utama Pendidikan Anak”. Sebagai salah satu tokoh pendidikan Islam, beliau memberikan pandangan mendalam mengenai pola asuh anak dalam keluarga.

Pada sub bab “Peran Ayah dalam Mendidik Anak”, beliau menuliskan sebuah anjuran penting. Ketika anak berusia lebih dari dua tahun, ayah hendaknya mulai mengajak anak bermain bersama.

Mengapa Khalid Asy-Syantut menganjurkan hal demikian? Apa sebenarnya pentingnya bermain dalam mendidik anak sholeh dan sholehah? Dan mengapa harus ayah?

Kisah Kehidupan Sehari-hari: Saat Ayah Terlalu Sibuk

Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika mobil ayah mulai dinyalakan. Ayah harus berangkat pagi sekali bila tidak mau terjebak macet dan terlambat sampai di kantor.

Bunda mengantarkan ayah di pintu sambil menggendong adek yang masih menyusu. Kakak pun menggandeng tangan Bunda sambil terus mengajak bicara sang ayah.

Ayah yang tergesa hanya menimpali sesekali. Hal itu terjadi ketika kakak sudah menanyakan hal yang sama berulang kali hingga membuat ayah merasa terganggu.

Jam 05.45 ayah pun berangkat ke kantor. Kakak dan adik menghabiskan waktu bercengkrama dengan bunda sepanjang hari.

Bunda melakukan semua pekerjaan rumah sambil mengasuh anak-anak. Makanan bergizi terhidang, baju tercuci rapi, serta lingkungan rumah dijaga kebersihannya.

Agar suasana tempat tinggal terasa makin nyaman, bunda juga menata hiasan rumah bernuansa islami di sudut ruang keluarga. Bunda lalu mengajarkan kakak membaca dengan telaten.

Malam pun tiba, Bunda dengan penuh kasih sayang menutup kegiatan hari ini dengan berkisah untuk kakak dan adik yang mulai mengantuk.

Tiba-tiba terdengar bunyi pagar rumah yang dibuka dan derum suara mobil ayah memasuki halaman. Anak-anak pun berlarian ke depan menyambut ayah.

“Ayah, kakak tadi diajari membuat pesawat oleh Bunda. Ayo Yah kita main, kakak sudah tunggu Ayah dari tadi.”

Ayah menjawab, “Sama bunda saja yah mainnya, ayah lelah sekali. Sekarang ayah mau mandi dan langsung istirahat. Jangan ganggu ayah yah, ayah kan seharian kerja cari uang untuk kalian.”

Kakak pun menggandeng bunda dan berkata, “Bunda, ayah capek yah cari uang untuk kita? Kalau begitu kakak main sama ayah hari Ahad saja yah Bun, kalau ayah sedang tidak bekerja.”

Ahad pun tiba. Melihat ayah sudah rapi, Kakak yang baru bangun langsung minta diambilkan pesawat untuk mengajak ayahnya bermain.

Namun ayah berkata, “Mainnya sama bunda saja yah Nak, Ayah ada janji reuni dengan teman-teman ayah. Nanti pulang ayah belikan mainan pesawat yang bagus untuk kakak.”

“Asiiik, nanti kita main ya Yah…” seru Kakak.

Ayah menyahut, “Sepertinya ayah akan pulang malam hari ini, Kak. Mainnya besok sama Bunda saja yah. Yang penting besok pagi mainan pesawat yang baru sudah ada di meja belajarmu.” Kakak pun mengangguk, entah apa yang ada di hatinya.

Mendidik Anak Bukan Hanya Tugas Ibu

Banyak dari para suami yang mengira bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab istri sepenuhnya. Padahal sejak anak lahir dan diawali dari momen seperti acara aqiqah di rumah, ayah sudah memegang kewajiban kepemimpinan dalam keluarga.

Suami tidak dituntut hanya untuk memenuhi kebutuhan materi anak-anak dan istrinya. Akibat pandangan yang keliru, suami sering menghabiskan waktunya di luar rumah bersama rekan-rekannya.

Ketika kembali ke rumah, ayah langsung beristirahat di kamar sambil meminta istrinya menemani anak-anak agar tidak mengganggu. Jika demikian keadaannya, keluarga tersebut jelas dalam keadaan bahaya.

Meneladani Rasulullah dalam Mengasuh Anak

Ayah, tidak malukah kita pada Rasulullah SAW sebagai teladan utama? Dalam kesibukannya yang luar biasa, Beliau tetap menyediakan waktu bercengkrama dengan anggota keluarganya.

Ingatkah kisah bagaimana Rasulullah pernah sholat sambil menggendong Umamah? Beliau memberikan contoh nyata cara ibadah yang dirasakan langsung oleh si kecil Umamah.

Tidakkah kita ingin mencontoh kemesraan Rasulullah dengan Hasan dan Husein ketika mereka duduk dan bercanda bersama? Beliau menyediakan punggung dan dadanya untuk dinaiki oleh kedua cucu kesayangannya.

Selain mengajak bermain, Rasulullah juga mengajarkan pembiasaan ibadah sejak dini, seperti mengenalkan ibadah puasa dan macam puasa sunnah kepada anak-anak.

Lihatlah nilai agama yang ditanamkan dari kedekatan emosional yang dibangun oleh Rasulullah. Gabungan antara kasih sayang, bermain, dan ketegasan khas seorang ayah adalah kombinasi yang sangat efektif.

Ajaklah Anakmu Bermain, Ayah!

Ajaklah anakmu bermain, Ayah. Optimalkan waktu yang tidak banyak di antara kesibukanmu mencari nafkah, karena anakmu sangat menanti kebersamaan bersamamu.

Membentuk karakter anak sholeh dan sholehah adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan kehadiran fisik serta emosional seorang ayah.

Dirimu adalah sang pemimpin keluarga. Peran besar Pendidikan Anak ada di tanganmu, dan kelak kepemimpinan ini akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Oleh : Poppy Yuditya
Sumber : parentingnabawiyah.com

Leave a Reply